Senin, 07 Maret 2022

 

JURNAL REFLEKSI MINGGU KE 21

Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya.

Pada jurnal kali saya menggunakan modul 4F.

A. Fact
Pada minggu ini saya melakukan kegiatan seperti :
·         *Ruang kolaborasi
·         *Refleksi Terbimbing
·        * Demonstrasi Konstektual

Pada sesi ruang kolaborasi saya bersama teman dalam satu kelompok mencoba menganalisis 7 aset yang di milki oleh sekolah SMPN 1 Idi. Dalam hal ini kami mengidentifikasi asset daerah yang dekat dengan sekolah yaitu pesisir pantai. Jenis kegiatannya adalah permentasi ikan asin. Hasil kerja kelompok kami tuangkan dalam bentuk karya poster.


Pada sesi refleksi terbimbing saya mengetahui beberapa hal penting seperti hal apa saja yang menarik setelah mempelajari modul 3.2. Hal menarik yang saya dapat dapat adalah mendapat wawasan tentang sumber daya yang di miliki oleh daerah yang dapat di mamfaatkan dalam pembelajaran di sekolah.

Selama ini saya terbiasa berpikir berbasis masalah/kekurangan dan sekarang mencoba berpikir berbasis Aset.

Ikut aktif mendukung sekolah untuk memaksimalkan sumber daya yang ada agar bisa di mamfaatkan oleh sekolah agar sekolah lebih maju dan bermutu

Pada sesi demonstrasi konstektual, saya mencoba mengidentifikasi asset yang di miliki oleh sekolah. Hal ini saya tuangkan karya saya dalam bentuk PPT.

A.    Feeling

Saya merasa sangat senang dan bersyukur bisa mempelajari modul ini. Pada akhirnya saya menjadi tahu asset apa saya yang di miliki oleh daerah untuk di mamfaatkan di sekolah. Mendapatkan wawasan baru bahwa segala kegiatan harus di pertimbangkan melalui pendekatan berbasis asset/Kekuatan.

B.   Finding

Setiap sekolah memiliki asset yang berbeda-beda sesuai daerah dan kondisi masing-masing.
Berpikir berbasis asset lebih menguntungkan dan mendatangkan mind set positive untuk memejukan sekolah.
Teridentifikasi 7 modal asset yang terdapat di sekolah saya.

C.   Future

Kedepannya saya bersama komunitas praktisi akan mencoba lebih memaksimalkan dan memamfaatkan segala asset yang dimiliki sekolah untuk memberikan layanan yang lebih prima terhadap kepentingan sekolah dan warga sekolah.

 Sekian dan terima kasih….salam guru penggerak.

Minggu, 20 Februari 2022

3.1.a.9 Koneksi Antar Materi

                                                         3.1.a.9 KONEKSI ANTAR MATERI-                                                                           PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN                                                                                                         

Ditulis Oleh NURIL MUKHLIFIDA, S.Ag
February 20, 2022

1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Pratap Triloka adalah sebuah filosofi yang sangat terkenal dari Bapak Pendidikan kita Kihajar Dewantara.  Pratap Triloka kata yang sering dikaitkan dengan peran seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran dalam lingkungan belajarnya.  “Ing ngarso sung tulodho”  memiliki arti di depan memberikan teladan, pembangkit semangat  dan memberikan dorongan bagi siswa yang membutuhkannya.

Menjadi landasan utama bagi guru dalam menerapkan Pratap Triloka  untuk mengambil keputusan terbaik yang berpihak pada murid yang menciptakan lingkungan belajar yang positif, nyaman dan menyenangkan.

Memperioritaskan murid adalah hal utama yang harus di kerjakan oleh guru. Dengan istilah lain “berhamba pada murid” Artinya apa yang terbaik bagi murid-muridnya harus dikedepankan oleh seorang guru.

 2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Setiap manusia memiliki sudut pandang yang berbeda-beda. Sebagai pendidik tentunya kita memiliki nilai- nilai yang tertanam dalam diri kita yang kita yakini dan menjadi dasar dalam hidup. Ingat pelajaran pada modul 1.2 tentang peran dan nilai guru penggerak. Nilai-nilai inilah yang menjadi landasan dan mempengaruhi saya dalam mengambil suatu keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Nilai-nilai tersebut adalah mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid.

3.Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching'  (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah  dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Metode coaching dapat diterapkan pada diri sendiri atau orang lain yang mengalami
dilema dalam hidupnya. Kita bisa membantu coachee dalam menemukan solusinya
sendiri untuk mengambil keputusan yang baik dan benar.
Pertanyaan (guiding questions) tersebut diharapkan mampu mengarahkan
keputusan kita menjadi tepat. Ketika kita akan melakukan sebuah pengambilan
keputusan, kita melakukan uji benar lawan salah dan benar lawan benar sebelum
keputusan kita buat. Kita harus mengenali dengan jujur apakah masalah yang
sedang dihadapinya tersebut sebuah dilema etika atau hanyalah sebuah bujukan
moral semata. Untuk diingat kembali perbedaan bujukan moral dan dilema etika
adalah bahwa pada sebuah bujukan moral ada nilai salah yang terkandung di
dalam keputusan tersebut. Bila kita sudah dapat mendeteksi ada kesalahan atau
ketidakbenaran di dalam permasalahan tersebut, seharusnya respon yang kita
ambil adalah menolaknya. Bujukan moral hanya membawa kita kepada kepada
kesalahan yang lebih mendalam bila kita memilihnya, karena memang mengandung
sebuah ketidakbenaran.
Akan tetapi bila permasalahan yang kita hadapi memiliki kebenaran secara moral
dari kedua sisi yang bertentangan, maka kita sedang berhadapan dengan sebuah
dilema etika. Ada 9 langkah dalam pengujian pengambilan keputusan yaitu :

(1) mengenali adanya nilai nilai yang saling bertentangan,

(2) mempertimbangkan siapa saja yang terlibat dalam situasi tersebut,
(3) mengumpulkan seluruh data dan fakta yang relevan, lalu kita wajib
(4) menguji benar lawan salah. Uji tersebut dapat meliputi:

·  uji legal untuk melihat apakah ada ranah hukum yang dilanggar,
·  uji regulasi profesionalitas untuk melihat apakah ada yang bertentangan dengan aturan secara profesional,
·  uji intuisi mengecek apa kata hati nurani kita,
·  uji publikasi dan juga
·  uji panutan atau idola.

(5) Bila keputusan tersebut lolos melalui uji benar lawan salah, maka harus dilakukan uji benar lawan benar di mana kita dapat memandangnya dari empat paradigma yang ada meliputi :
   ·  Individu lawan masyarakat (individual vs community),
·  rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy),
·  kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), dan
·  jangka pendek lawan  jangka panjang (short term vs long term).

(6) Kemudian permasalahan ini kita coba cari resolusinya dengan menggunakan cara pandang atau prinsip resolusi penyelesaian dilema. Apakah kita akan memandangnya melalui prinsip
·       Berpikir Berbasis Hasil Akhir (End-Based Thinking),
·       Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking), atau
·       Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

(7) Kemudian kita juga dapat mencari jalan tengah yang dapat diambil atau seringkali disebut Investigasi Opsi Trilema agar keputusan tidak harus saling berlawanan (win win solution).
(8) Bila semua telah dipertimbangkan maka kita dapat dengan yakin                     mengambil keputusan akhir yang terbaik serta

(9) direfleksikan kembali, apakah keputusan tersebut sudah yang terbaik             yang dapat diambil.

 4.     Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau

      etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik

Guru sebagai pemimpin pembelajaran pada dasarnya juga dibesarkan dan didik dalam keluarganya. Pribadi guru juga di pengaruhi oleh lingkungan di mana dia tinggal. Hal tersebut tentu saja membentuk moral seorang guru serta etika apa yang dipercayainya serta dilakukannya dalam kesehariannya. Sudah menjadi budaya kita kalau terjadi pandangan yang berbeda dalam menyikapi suatu masalah. Misalnya ada guru yang memahami suatu kasus melalui hasil akhir yang akan terjadi (End based thinking) karena dia dididik untuk selalu memberikan hasil terbaik. Ada juga yang berfokus pada peraturan yang berlaku (Rule based thinking) karena dia dididik untuk selalu mematuhi peraturan yang ada. Bahkan ada yang selalu melihatnya dari sisi kemanusiaannya (Care based thinking) meskipun itu dapat berpotensi melanggar aturan dan lainnya.   

5. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?

Visi dan tujuan seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran berkewajiban menciptakan lingkungan sekolah yan positif, kondosif, aman dan nyaman. Hal ini tentu saja atas pemikiran keputusan yang bertanggung jawab dan berpihak pada murid. Guru akan melakukan apa saja agar siswanya maju dan meraih kesuksesan.

6. Apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Kesulitan yang sering dihadapi dalam pengambilan keputusan adalah dari sudut pandang atau mind set terhadap suatu kasus. Setiap orang pasti berbeda pemikirannya.

Hal ini di pengaruhi oleh perbedaan budaya, nilai-nilai dan prinsip hidup yang mendasari setiap pribadi manusia. Namun di perlukan suatu konsekuansi dan tekad dalam mengambil suatu keputusan.

 7. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?    

Ketepatan dalam mengambil keputusan akan membawa dampak positif bagi warga sekolah terutama bagi peserta didik. Disamping itu pengaruh pengambilan keputusan yang tepat dan efektif oleh diri kita sebagai pemimpin pembelajaran akan tercipta lingkungan belajar yang positif, kondusif, aman dan menyenangkan, Dalam hal ini kemerdekaan belajar murid adalah hal yang utama. Hal ini dapat diwujudkan dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran sosial emosional dan menerapkan praktik coaching.

8.    Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

8.   . Lingkungan di mana anak tumbuh dan berkembang sangat mempengaruhinya. Murid adalah produk dari apa yang diajarkan lingkungannya, dalam hal ini keluarga dan sekolah serta masyarakat lainnya. Bila pengambilan keputusan dilakukan secara tidak bertanggung jawab tanpa menimbang dampak yang dapat terjadi pada murid sebagai akibat dari keputusan tersebut, tentunya akan mempengaruhi kehidupan murid bahkan masa depan murid menjadi kurang baik. Demikian juga sebaliknya, keputusan yang diambil dengan mempertimbangkan kepentingan murid dalam tumbuh dan kembangnya akan berpotensi membuat kehidupan serta masa depan sang murid menjadi jauh lebih baik dan bahkan mereka dipersiapkan untuk menyongsong masa depan yang baik.

9.         10.  Kesimpulan akhir dari modul ini adalah ketepatan dalam pengambilan keputusan sebagai upaya guru memberikan pembelajaran dan pelayanan yang berpihak pada anak. 

or  Seorang guru yang baik memiliki visi untuk berpihak pada murid bahkan berhamba pada anak. Modul-modul sebelumnya memberikan pelatihan bagi guru untuk landasan berpikir dalam menjalankan perannya sebagai guru penggerak di sekolah maupun di lingkungannya secara luas. 


Rabu, 16 Februari 2022

 

JURNAL REFLEKSI MINGGU 18

Melakukan kegiatan refleksi guna mengetahui posisi dan materi mana yang telah di kuasai oleh seorang CGP. Pada refleksi kali ini penulis mengambil model refleksi 4 P. Reflektif berfungsi sebagai masukan sebagai umpan balik atas apa yang telah dilakukan.

A.       Peristiwa

Lanjutan pembelajaran pada minggu ini masih seputar pembelajaran tentang pengambilan keputusan. Sesi pembelajaran minggu ini, saya berbagi pemahaman lewat Ruang Kolaborasi. Dalam diskusi melalui Gmeet kami menganalisis kasus-kasus yang sering terjadi dalam lingkungan sekolah atau bahkan kasus tersebut bisa dikatakan sama. Yang menjadi perbincangan hangat  terutama terkait penentuan paradigma pengambilan keputusan. Hal ini karena dari studi satu kasus yang dianalisis bisa lebih dari satu paradigma.

Bersama instruktur, diskusi panjang lebar dapat terselesaikan dengan baik. Selepas sesi pertemuan virtual pemahaman pun bertambah. Setidaknya sudah ada gambaran lebih jelas lagi tentang pengambilan keputusan. Termasuk di dalamnya adalah hal-hal terkait yang bisa diimplementasikan di sekolah masing-masing.

        B.    Perasaan

 Saya merasa senang karena lebih tahu banyak dalam strategi pengambilan keputusan. Mengetahui prinsip, paradigma serta 9 pengujian dalam mengambil suatu keputusan.

       C.     Pembelajaran

Pembelajaran utama yang diperoleh adalah semakin terbukanya pemahaman tentang pengambilan keputusan yang tepat. Semakin terbukanya pemahaman ini merupakan awal kemudahan dalam mengimplementasikan di sekolah. Bukan saja untuk diri pribadi, melainkan juga untuk sejawat dan komunitas praktisi di sekolah. Pemahaman ini tentu akan lebih bermanfaat apabila disebarkan kepada yang lain. Penyebaran tidak harus dalam bentuk kegiatan yang terkesan ‘wah’. Bisa saja dalam bentuk sederhana, tetapi rutin dilakukan.

     D.    Perubahan

Perubahan nyata yang terjadi pada diri saya adalah meningkatnya pemahaman terkait pengambilan keputusan. Selain itu, juga kompetensi terkait. Hal ini terlihat dari tidak ada lagi kendala yang berarti dalam melakukan analisis beberapa pengambilan keputusan di sekolah. Tidak terkecuali adanya niat untuk berusaha seoptimal mungkin menerapkan paradigma, prinsip, dan langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Tujuannya agar pada akhirnya keputusan tersebut adalah yang tepat di antara pilihan benar dengan benar.

 

Minggu, 13 Februari 2022

 

3.1.a.7. Demontrasi Kontekstual -Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran

1.    Bagaimana Anda nanti akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang Anda dapatkan di program guru penggerak ini di sekolah/lingkungan asal Anda?

Ada beberapa hal atau meteri yang saya peroleh pada modul ini seperti mengedepankan

Uji 9 langkah , 4 paradigma  dan 3 prinsip dilemma etika dalam pengambilan keputusan terhadap berbagai persoalan yang timbul sebagai pemimpin dalam pembelajaran.

Disini CGP dibekali dengan keterampilan dalam menyelasaikan masalah. Untuk mampu menyelesaikan masalah, CGP harus memiliki kepiawaian dalam menentukan jenis masalah yang dihadapi. Apakah itu sebuah Dilema Etika atau Bujukan Moral. 

Apa yang di harapkan setelah mempelajari modul ini?

Tentu saja Saya akan mentransfer dan menerapkan pengetahuan yang saya peroleh pada sekolah dan lingkungan sekolah melalui komunitas praktisi dan forum MGMP yang telah terbentuk di sekolah. Dalam pengabilan keputusan haruslah di pertimbangkan matang-matang, penuh keberanian dan kepiawaian sebagai pemimpin pembelajaran  agar tidak merugikan berbagai pihak.

Apa tolak ukur keberhasilan dalam pengambilan keputusan ?

Efektivitas pengambilan keputusan dapat di ukur apabila dampak negatif rendah dan hasil positif dapat di rasakan lebih banyak dan baik.

2.    Apa langkah-langkah awal yang akan Anda lakukan untuk memulai mengambil keputusan berdasarkan pemimpin pembelajaran?

a.       Pertama Melatih keterampilan diri dalam memahami setiap masalah yang saya hadapi dengan melakukan pemetaan terhadap dilema dengan megadopsi 9 langkah pengujian, 4 paradigma serta 3 prinsip pengambilan keputusan supaya tepat sasaran dalam menentukan sebuah keputusan.

Berikut 9 langkah pengujian, 4 paradigma dan 3 prinsip pengambilan keputusan.

9 (sembilan) langkah yang dapat disusun untuk memandu kita dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan dalam situasi dilema etika yang membingungkan karena adanya beberapa nilai-nilai yang bertentangan, diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangna  dalam situasi, dengan cara mengidentifikasi dan menyaring masalah yang berhubungan dengan etika sopan satun dan norma sosial.
  2. Tentukan siapa saja pihak yang terlibat dalam situasi tersebut.
  3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan, dalam hal ini kita dapat menggunakan salah satu teknik Coaching dan Kompetensi Sosial Emosi Teknik STOP
  4. Pengujian Benar atau Salah, dalam hal ini dapat dilakukan menggunakan uji legal, uji regulasi atau standar profesional, uji intuisi, uji halaman depan, dan uji panutan atau idola
  5. Pengujian menggunakan empat paradigma benar lawan benar
  6. Melakukan prinsip resolusi dengan menggunakan 3 (tiga) prinsip pengambilan keputusan, yaitu berbasis hasil akhir, berbasis peraturan, dan berbasis rasa peduli.
  7. Investigasi opsi trilema, yaitu munculnya sebuah gagasan baru yang kreatif saat kebingungan dalam pengambilan keputusan.
  8. Buat keputusan
  9. Lihat keputusan dan refleksikan, dalam hal ini salah satu langkah yang dapat kita gunakan adalah teknik IA (Inquiry Apresiatif) menggunakan konsep BAGJA yang berarti Buat Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana, dan Atur Ekseskusi

Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini:

     1.        Individu lawan masyarakat (individual vs community)

2.        Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

3.        Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

4.        Jangka pendek lawan  jangka panjang (short term vs long term).

Ketiga prinsip tersebut adalah:

1.        Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

2.        Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

3.        Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking

 

b.      Kedua saya harus berbagi pengetahuan ini dengan rekan -- rekan sejawat, yang sudah mendapatkan persetujuan dari pimpina tentunya. Agar semua berjalan dengan lancar dan sesuai harapan.

Kebijakan mengambil sebuah keputusan akan menjadi bekal yang sangat berarti bagi CGP untuk melangkah menjadi guru yang tepat bagi murid -- muridnya.

3.    Mulai kapan Anda akan menerapkan langkah-langkah tersebut, hari ini, besok, minggu depan, hari apa? Catat rencana Anda, sehingga Anda tidak lupa.

Sejak awal mempelajari modul ini saya sangat tertarik dengan metode dalam mengenal sebuah masalah dan langkah untuk mengambil keputusan. Sejak saat itu saya terus mendalaminya dan langsung mempraktikkan dalam setiap masalah -- masalah yang saya hadapi baik di lingkungan sekolah, maupun dalam kehidupan sehari – hari dengan konsisten dan fleksibel

 4. Siapa yang akan menjadi pendamping Anda, dalam menjalankan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran? Seseorang yang akan menjadi teman diskusi Anda untuk menentukan apakah langkah-langkah yang Anda ambil telah tepat dan efektif.

Dalam hal ini saya akan melibatkan beberapa pihak;

 a.    Fasilitator

Fasilitator adalah orang pertama yang memberikan pemahaman  dan pengaruh aktif dalam mentransfer pengetahuan tentang semua teori dan aplikasi pengetahuan dalam setiap modul di program ini.

b.    Pengajar Praktik

Pengajar praktik tidak kalah penting dengan fasilitator. PP merupakan seseorang yang terjun langsung pada pendampingan dan pembinaan setiap pengetahuan dan keterampilan di lapangan.

c.     Kepala Sekolah

Peran Kepala Sekolah dalam hal ini lebih kepada izin prinsip pada setiap program dan agenda CGP.

d.    Sesama CGP

Kebetulan dalam satu Satuan Pendidikan saya tidak sendirian dalam mengikuti program guru penggerak ini. Sehingga lebih memudahkan untuk bergerak bersama dalam setiap program.

e.    Komunitas Praktisi

Wadah tempat berbagi dan mencari solusi atas setiap masalah yang dihadapi warga sekolah.

 

 

 

.

 

Rabu, 09 Februari 2022

 


2.      Jurnal Refleksi - Minggu 17  

Pengambilan Keputusan sebagai pemimpin pembelajaran

Model  Driscoll

Pada modul 3.1 ini CGP mempelajari tentang pengambilan keputusan. Di minggu ini CGP mempelajari berbagai aktivitas pembelajaran diantaranya: Eksplorasi konsep mandiri dan Eksplorasi konsep forum diskusi.

Pada penulisan jurnal kali ini penulis menggunakan model Driscoll. Model yang diadaptasi dari refleksi yang digunakan pada praktik klinis (Driscoll & Teh, 2001).

1. WHAT? (Deskripsi dari peristiwa yang terjadi)

    Eksplorasi konsep mandiri

Pada minggu ini CGP mempelajari tentang membedakan dilema etika/ethical dilemma dengan bujukan moral/moral temptation dan mengidentifikasi jenis dilema berdasarkan 4 paradigma, yaitu :

1.      Individu lawan masyarakat (individual vs community)

2.      Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

3.      Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

4.      Jangka pendek lawan  jangka panjang (short term vs long term) 

Pembelajaran Eksplorasi konsep, CGP mengingat kembali peristiwa di mana CGP mengambil sebuah keputusan sulit. Keputusan sulit yang bisa termasuk keputusan dilema etika atau bujukan moral. Untuk mendalami lebih lanjut apa perbedaan keduanya, CGP mempelajari jenis-jenis dilema dan paradigma dalam pengambilan keputusan dengan terlebih dahulu menyimak pertanyaan pemantik dan menentukan nilai yang merupakan dilema etika dan bujukan moral.

Dilema etika adalah situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan secara moral benar tetapi bertentangan sedangkan bujukan moral adalah situasi terjadi ketika seseorang harus memutuskan pilihan antara benar atau salah.

Dilema etika seringkali membuat kita sulit untuk mengambil keputusan. Keputusan yang kita ambil sering kali hanya berdasarkan pada prinsip-prinsip berikut ini:

  1. Melakukan demi kebaikan orang banyak atau yang kita kenal dengan Berpikir Berbasis pada Hasil Akhir (Ends Based Thinking).
  2. Menjunjung tinggi nilai-nilai pada prinsip dalam diri atau yang sering kita sebut dengan Berpikir Berbasis Peraturan (Rules Based Thinking).
  3. Melakukan apa yang kita harapkan orang lain lakukan pada diri kita atau kita kenal dengan Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Cares Based Thinking).

Sebagai bahan latihan dalam mengambil sebuah keputusan disajika sebuah kasus dimana seorang guru kelas V bernama Bu Tati yang terkenal di siplin dan agak sedikit galak. Kepala sekolah dan wali murid sangat mengapresiasi kinerja beliau. Pada suatu ketika Bu Tati menghukum seorang murid perempuan dengan menjemur di bawah terik panas matahari sambil menghadap ke kelasnya. Dan disini CGP di suruh menganalis kasus ini. Bagaimana pandangan CGP sendiri dan juga tugas mewawancarai rekan sejawat tentang kasus ini.

Forum Diskusi - Eksplorasi Konsep

CGP mendalami materi melalui studi kasus dalam bentuk video. Saya mengambil kasus ke 9. Kasus tentang Obat untuk Ibu.  Dimana seorang ibu yang terkena M virus 22 dan belum di temukan obat untuk menyembuhkan penyakit ini.

2. SO WHAT? (Analisis dari peristiwa yang terjadi)

Setelah menyelesaikan seluruh ketiga aktivitas di atas ada banyak pencerahan yang didapat oleh saya. Bahwa dalam pengambilan keputusan haruslah benar-benar teliti, cermat dan hati-hati. Pikiran focus tidak mengambil keputusan secara terburu-buru bahkan sudah dibuat keputusan pun harus tetap merefleksi kembali apakah keputusan yang kita ambil sudah benar-benar mewakili aspirasi seluruh pihak yang terlibat atau tidak. Cara yang kita ambil dalam mengambil keputusan adalah dengan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan.

3. NOW WHAT? (Tindak lanjut dari peristiwa yang terjadi)

Setelah mengetahui 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. saya akan coba mengaplikasikan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan terhadap setiap kasus yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari khususnya di sekolah. Langkah-langkah ini merupakan salah satu upaya yang diambil untuk menciptakan kondisi yang lebih kondusif dan ideal sebagai imbas dari pengambilan keputusan yang tepat. Bahkan kemungkinan/resiko yang muncul akibat dari ketidaktepatan keputusan pun dapat diminimalisir. Dalam pengambilan keputusan yang benar-benar tepat dapat diperoleh dari melibat-aktifkan seluruh warga sekolah khusus komunitas praktisi. Keputusan yang diambil dari melibatkan seluruh elemen di sekolah akan mampu mengakomodir seluruh kepentingan, harapan dan keinginan semua pihak. Selanjutnya saya akan coba mensosialisasikan pengetahuan dan pengalaman saya terkait materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran di instansi tempat saya bekerja sehingga semua pihak terlibat dapat bergerak bersinergis mengambil keputusan yang tepat yang memberikan kemanfaatan bagi semua pihak.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

  JURNAL REFLEKSI MINGGU KE 21 Pemimpin dalam pengelolaan sumber daya. Pada jurnal kali saya menggunakan modul 4F. A. Fact Pada min...